TIMES PONTIANAK, JAKARTA – Hingga sejauh ini masih belum jelas apa yang akan dilakukan Presiden AS Donald Trump terkait Iran, namun menurut para analis serangan akan dilakukan namun dalam skala kecil.
Mantan Penasihat Keamanan Nasional AS, Mark Pfeifel percaya bahwa Amerika Serikat tetap akan melancarkan serangan mendadak terhadap Iran, tetapi bukan serangan berskala besar.
Menurutnya, Amerika Serikat kemungkinan akan menyerang beberapa wilayah di Iran yang menjadi lokasi markas besar tentara, polisi, dan Garda Revolusi , untuk meminimalkan korban sipil dan mengirim pesan kepada pemerintah Iran bahwa penanganan krisis ini merugikan mereka.
Tetapi para analis memperkirakan serangan militer terbatas itu akan memperburuk krisis pemerintah Iran sekaligus membatasi biaya politik bagi Washington.
Amerika Setikat juga mulai menarik sebagian personelnya dari pangkalan-pangkalan penting di Timur Tengah sebagai tindakan pencegahan bila Iran akan melakukan pembalasan.
Rabu kemarin, Qatar juga telah mengkonfirmasi adanya penarikan sejumlah personel dari Pangkalan Udara Al Udeid karena ketegangan regional saat ini, setelah laporan bahwa militer Amerika Serikat mengevakuasi sebagian pangkalan utamanya karena Washington mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran.
Pengumuman dari Doha itu datang tak lama setelah media AS mengutip sumber Pentagon yang mengkonfirmasi bahwa AS menarik sebagian personelnya dari pangkalan-pangkalan penting di Timur Tengah sebagai tindakan pencegahan, sementara Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan tindakan militer terhadap Iran.
Pemerintahan Donald Trump meningkatkan ancamannya terhadap Iran dalam beberapa hari terakhir, dan Trump mendesak kepada para demonstran di Iran untuk terus berdemonstrasi dan merebut lembaga-lembaga negara, dengan mengatakan bahwa bantuan sedang dalam perjalanan kepada mereka.
Menanggapi seruan Trump itu, Iran kemudian mengirim surat kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menyatakan bahwa Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab langsung atas nyawa para korban unjukrasa tersebut.
Menurut Iran, banyak kematian para pengunjukrasa itu karena tembakan milisi bersenjata.
Iran mengalami banyak gelombang unjukrasa dalam beberapa tahun terakhir, tetapi yang mencolok kali ini adalah perubahan cepat dalam posisi Amerika, yang mencapai titik mengancam intervensi militer untuk mendukung para demonstran, hanya dua minggu setelah demonstrasi dimulai, kata Profesor Konflik Internasional Ibrahim Freihat.
Amerika Serikat juga dengan cepat menetapkan garis merah dan bahkan secara langsung menyerukan kepada para pengunjukrasa untuk merebut lembaga-lembaga pemerintah, serta mengarahkan kapal perang Amerika ke wilayah tersebut dan pernyataan terus-menerus Trump tentang krisis tersebut, menurut apa yang dikatakan Freihat dalam program 'Beyond the News'.
Amerika Serikat bahkan sedang bersiap menghadapi kekosongan kekuasaan jika rezim Iran tiba-tiba runtuh, karena oposisi tidak terorganisir dengan cara yang membuatnya layak untuk menjalankan negara tersebut," kata Weifel.
Namun ia menekankan itu juga tidak akan gampang seperti yang kini sedang terjadi terhadap Venezuela.
Menurut Freihat, Israel juga tidak akan jauh dari potensi operasi apa pun, terutama yang berkaitan dengan aspek intelijen dan siber serta agen-agen di lapangan, seperti yang terjadi pada perang terakhir.
Israel telah berinvestasi besar-besaran dalam gelombang protes Iran kali ini dan tidak menyangkal dukungannya yang sangat jelas jika dibandingkan dengan banyak protes besar sebelumnya.
Ancaman Mengerikan
Sementara itu Iran mengeluarkan ancaman mengerikan terhadap Donald Trump Rabu kemarin dengan menyiarkan gambar panglima tertinggi tersebut selama upaya pembunuhan dalam rapat umum Butler tahun 2024 dengan kata-kata "Kali ini tidak akan meleset dari sasaran."
Peringatan mengerikan itu disiarkan di televisi milik pemerintah Iran, seperti yang dilaporkan oleh Agence France Presse (AFP).
Ini menandai ancaman paling langsung Teheran terhadap Trump hingga saat ini, menyusul ancaman berulang-ulang bahwa AS akan menyerang negara itu jika terus melakukan penindakan brutal terhadap para pengunjukrasa anti-pemerintah Iran.
Iran telah beberapa kali mengancam akan membunuh Trump di masa lalu, termasuk sebuah video yang diunggah oleh rezim tersebut pada tahun 2022 yang menggambarkan upaya pembunuhan terhadapnya predi lapangan golf Mar-a-Lago miliknya sebelum pemilihan tahun 2024.
Video tersebut kembali mencuat setelah penangkapan calon pembunuh Ryan Routh , yang ditangkap saat mencoba membidik Trump di lapangan golf yang sama.
Menurut dokumen Departemen Kehakiman disebutkan bahwa pada tahun 2024, AS juga menggagalkan rencana yang disebut-sebut dipimpin Iran untuk membunuh Trump setelah menangkap Farhad Shakeri, yang diduga ditugaskan oleh Korps Garda Revolusi Iran untuk membunuh presiden atas perintah rezim.
Bersamaan dengan spanduk anti-Trump, para pengunjukrasa pro-pemerintah yang terbaru di Iran terdengar meneriakkan, “Matilah Amerika!” sambil menyatakan dukungan mereka kepada Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Menurut situs hak asasi manusia Iran, HRANA, jumlah korban tewas yang dikonfirmasi mencapai 2.403 selama 17 hari unjukrasa, yang menurut Iran ini adalah pembunuhan sistematis oleh milisi yang didanai oleh Amerika Serikat dan Israel. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Amerika Serikat Kemungkinan Akan Serang Iran dalam Skala Kecil
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |